Kamis, 19 Maret 2009

KISAH JEUNK WIN & RP. 9000,-

Hari yang sedikit aneh, siang itu segerombol ladies memutuskan melepaskan kepenatan dari diskusi panjang tak jelas ke satu rumah makan milik orang tua di Bandung, siang itu begitu panas. Seperti yang biasanya sibuk para ladies memilih menu, ada yang berdasar selera pribadi ada pula yang tak sengaja tiru-tiru alias sama dengan yang lain. Menu datang saatnya makan… ditengah serunya menyantap hidangan tiba-tiba terdengar suara berisik di genteng, Jeunk Put berseru Hujan Es, ah yang benar saja… ternyata tidak berapa lama hujan turun disertai angin yang cukup kencang.. rusuh hujannya, hujan Es euy, ternyata salah seorang ladies punya bakat terpendam jadi peramal cuaca.

Karena alasan cuaca pula gerobolan ladies tersebut terpaksa pindah meja, kemudian bill pun diminta… saatnya menyatukan kekuatan alias bayar. Tiba-tiba Jeunk Win 1 bertanya, es teh Rp 5000 dibawahnya kok Rp. 9000,- kebetulan Jeunk Win memang pesan teh bersama dengan Jeunk Tiw, jadi ada dua teh. “mana mb ?” pertanyaan tersebut langsung ditanggapi Jeunk Win 2, iya ya … ah jadi terpanalah dua jeunk Win dengan Rp. 9000,-. Hal ini membuat penasaran Jeunk Ip, “aih mana… ah teh memang Rp. 5000,- yang Rp. 9000 harga 1 es jeruk. Aih kebetulan yang pesan es jeruk 2 orang jadi harga yang terpampang disampingnya adalah Rp. 18000,- harga masing-masing diletakkan diatas. Ah.. betapa malunya jeunk win 1, jelas aja bukankah sebelum tulisan RP. 9000,- tertera tanda @... aih….

Ah untungnya Jeunk Win 1 tak sendiri, tapi ditemani Jeunk Win 2 sehingga label DDR (daya dong rendah) tak layak dijadikan alasan untuk kekhilafan itu. Apa dong sebabnya? agar objektif si Jeunk Win 1 bertanya pada Jeunk Win 2. Dan akhirnya didapatlah satu kesimpulan… keduanya berfikir mendapatkan diskon !!!

Aih pelajaran hari itu, ketika kita memiliki suatu pengharapan atau dugaan atas sesuatu, kita cenderung mengumpulkan hal-hal yang dapat mendukung pengharapan tersebut serta mencari dukungan opini orang lain tanpa melihat secara keseluruhan dengan lebih seksama. Dan akhirnya terjadi kesalahan penyimpulan dan penilaian. Hal ini dapat terjadi dalam aspek kehidupan yang lain tidak hanya menyangkut uang. Hm… tidak hanya IQ jongkok yang membuat orang mendapatkan pemahaman yang salah bukan… pertanyaan seterusnya apakah selama ini kita sudah benar-benar objektif dalam menyimpulkan dan menilai suatu hal ??? (stt …. Ini yang punya kompetensi A, B, C, atau D, termasuk tentang derajat ke “Killer-an Dosen” tentunya… Hmmmmmmmmmmmmmmm…..)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda